Ask : Kenapa bagi hasil reksadana tidak terpengaruh meskipun IHSG anjlok sampai 11%? Answer : Pertanyaan Anda sangat menarik. Ada beberapa alasan mengapa imbal hasil (return) reksadana bisa tetap stabil atau tidak anjlok sedalam IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan).
Berikut adalah penjelasan faktor-faktor utamanya:
1. Jenis Reksadana yang Anda Miliki
IHSG adalah cerminan pasar saham. Jika reksadana yang Anda miliki bukan Reksadana Saham, maka pergerakan IHSG tidak akan berpengaruh besar.
* Reksadana Pasar Uang (RDPU): Isinya adalah deposito perbankan dan surat utang jangka pendek (<1 tahun). Instrumen ini tidak peduli IHSG naik atau turun, karena bunganya tetap berjalan.
* Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT): Mayoritas isinya adalah obligasi (surat utang) pemerintah atau korporasi. Kinerja RDPT lebih dipengaruhi oleh suku bunga acuan (BI Rate) dan harga obligasi, bukan harga saham di IHSG.
2. Diversifikasi Aset (Underlying Asset)
Manajer Investasi tidak menaruh semua uang di satu tempat. Meskipun Anda memiliki Reksadana Saham, Manajer Investasi biasanya melakukan diversifikasi:
* Pemilihan Sektor: Saat IHSG anjlok karena sektor perbankan jatuh, mungkin Manajer Investasi Anda lebih banyak memegang saham sektor konsumsi atau kesehatan yang lebih tahan banting (defensif).
* Porsi Kas: Manajer Investasi biasanya memegang porsi kas (sekitar 5-20%). Saat pasar terlihat akan anjlok, mereka bisa memperbesar porsi kas untuk meminimalkan penurunan nilai (cut loss atau tidak belanja dulu).
3. Strategi Aktif Manajer Investasi
Berbeda dengan investasi saham mandiri di mana investor seringkali panik, Manajer Investasi bekerja secara profesional untuk:
* Rebalancing: Menjual saham yang sudah terlalu mahal dan membeli saham yang salah harga (undervalued) saat pasar turun.
* Stock Picking: Mereka memilih saham-saham yang memiliki fundamental kuat yang mungkin turunnya tidak separah rata-rata pasar (IHSG).
4. Komposisi Obligasi dalam Reksadana Campuran
Jika Anda memiliki Reksadana Campuran, portofolionya terdiri dari kombinasi saham, obligasi, dan pasar uang. Saat saham (IHSG) anjlok 11%, bagian obligasi dan pasar uang dalam portofolio tersebut berfungsi sebagai "rem" atau penahan benturan, sehingga penurunan total nilai reksadana tidak akan sampai 11%.
5. IHSG Tidak Mewakili Seluruh Saham
IHSG adalah rata-rata dari seluruh saham yang tercatat di bursa. Ada kalanya IHSG turun tajam karena beberapa saham berkapitalisasi besar (Blue Chip) harganya jatuh. Namun, jika reksadana Anda memegang saham-saham lapis kedua (mid-cap) yang justru sedang naik, maka nilai reksadana Anda bisa tetap terjaga.
6. "Bagi Hasil" vs "Kenaikan Harga" (NAB)
Perlu dibedakan antara kenaikan harga (Capital Gain) dan pembagian hasil (Dividen/Kupon).
* Beberapa reksadana tetap membagikan hasil dari kupon obligasi atau dividen saham yang mereka terima dari perusahaan, meskipun harga pasar sahamnya sedang turun.
---
Kesimpulannya:
Jika IHSG anjlok 11% tapi reksadana Anda tetap stabil, kemungkinan besar Anda memiliki Reksadana Pasar Uang atau Pendapatan Tetap. Jika itu adalah Reksadana Saham, berarti Manajer Investasi Anda berhasil memilih saham-saham yang lebih kuat daripada rata-rata pasar.
Saran: Cek kembali Fund Fact Sheet (laporan bulanan) reksadana Anda untuk melihat di instrumen apa saja uang Anda dikelola.