Detail Diskusi

Matematika 25 hari yang lalu
Administrator
Menanyakan Sesuatu
"Anda bisa menghitungkan rumus penentuan hilal versi pemerintah dan KHGT?"

2 Jawaban Komunitas

BOT AI AI Bot
25 hari yang lalu
Ask : Anda bisa menghitungkan rumus penentuan hilal versi pemerintah dan KHGT?
Answer : Tentu, saya bisa menjelaskan prinsip perhitungan dan kriteria yang digunakan oleh Pemerintah (MABIMS) dan KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal).

Penting untuk dicatat bahwa perhitungan astronomi ini melibatkan trigonometri bola (spherical trigonometry) yang cukup kompleks. Di bawah ini adalah ringkasan kriteria dan rumus dasarnya.

---

1. Kriteria Pemerintah Indonesia (MABIMS)


Sejak tahun 2021, Indonesia bersama Malaysia, Brunei, dan Singapura menggunakan kriteria MABIMS Baru. Penentuan awal bulan hijriah dilakukan dengan metode Imkanur Rukyat (kemungkinan hilal terlihat).

Kriteria Utama:
1. Ketinggian Hilal (Altitude): Minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam.
2. Sudut Elongasi (Elongation): Minimal 6,4 derajat. Jarak sudut antara pusat piringan bulan dan pusat piringan matahari.

Logika Perhitungan:
Jika pada hari ke-29 bulan berjalan, saat matahari terbenam di wilayah Indonesia, posisi bulan sudah memenuhi kedua syarat di atas, maka esok hari dinyatakan sebagai tanggal 1 bulan baru. Jika tidak, maka bulan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

---

2. Kriteria KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal)


KHGT adalah metode yang baru saja diadopsi secara resmi oleh Muhammadiyah (mulai tahun 1446 H) menggantikan metode Wujudul Hilal lokal. Kriteria ini merujuk pada hasil Kongres Turki 2016.

Kriteria Utama:
1. Ketinggian Hilal: Minimal 5 derajat di atas ufuk.
2. Sudut Elongasi: Minimal 8 derajat.
3. Prinsip Kesatuan Matlak: Jika kriteria di atas terpenuhi di mana pun di belahan bumi sebelum pukul 00:00 UTC (jam 07:00 WIB), maka seluruh dunia dianggap masuk bulan baru di hari yang sama, dengan syarat di Amerika Selatan (sebagai titik paling barat) bulan sudah di atas ufuk sebelum fajar.

Perbedaan Utama:
Jika Pemerintah hanya melihat wilayah Indonesia (lokal/regional), KHGT melihat posisi bulan secara global.

---

3. Rumus Dasar yang Digunakan


Untuk mendapatkan angka ketinggian dan elongasi, para ahli hisab menggunakan rumus trigonometri bola. Berikut adalah gambaran rumusnya:

#### A. Menghitung Ketinggian Hilal ($h$)
$$\sin(h) = \sin(\phi) \cdot \sin(\delta) + \cos(\phi) \cdot \cos(\delta) \cdot \cos(H)$$

* $h$ = Ketinggian (Altitude)
* $\phi$ = Lintang tempat (Latitude)
* $\delta$ = Deklinasi Bulan
* $H$ = Sudut Jam Bulan (Hour Angle)

#### B. Menghitung Elongasi ($E$)
Elongasi adalah jarak sudut antara Bulan ($m$) dan Matahari ($s$).
$$\cos(E) = \sin(\delta_m) \cdot \sin(\delta_s) + \cos(\delta_m) \cdot \cos(\delta_s) \cdot \cos(\alpha_m - \alpha_s)$$

* $E$ = Elongasi
* $\delta_m, \delta_s$ = Deklinasi Bulan dan Matahari
* $\alpha_m, \alpha_s$ = Right Ascension (Ascensio Recta) Bulan dan Matahari

---

Perbandingan Ringkas



| Parameter | Pemerintah (MABIMS) | KHGT (Muhammadiyah) |
| :--- | :--- | :--- |
| Tinggi Hilal | Min. 3° | Min. 5° |
| Elongasi | Min. 6,4° | Min. 8° |
| Cakupan Wilayah | Lokal/Regional (Indonesia & sekitarnya) | Global (Satu tanggal satu dunia) |
| Metode Dasar | Imkanur Rukyat (Visibilitas) | Hisab Hakiki (Kepastian Geometris) |

Mengapa Hasilnya Bisa Berbeda?


Seringkali terjadi perbedaan awal puasa atau lebaran karena:
1. Angka Ambang Batas: KHGT lebih tinggi (5° & 8°) dibandingkan Pemerintah (3° & 6,4°).
2. Lokasi Pengamatan: Pemerintah hanya menghitung jika hilal terlihat di Indonesia. KHGT tetap menganggap masuk bulan baru jika hilal sudah tinggi di Amerika atau Afrika, meskipun di Indonesia hilal masih sangat rendah atau bahkan di bawah ufuk.

Jika Anda ingin saya menghitungkan angka spesifik untuk tanggal tertentu (misalnya awal Ramadan atau Idul Fitri tahun depan), saya memerlukan data Ephemeris (posisi benda langit) pada tanggal tersebut. Apakah Anda memiliki tanggal spesifik yang ingin dihitung?
BOT AI AI Bot
25 hari yang lalu
Ask : sebenarnya penanggalan hijriyah itu apakah mengenal zona waktu seperti UTC di penanggalan matahari?
Answer : Secara teknis dan tradisional, penanggalan Hijriyah tidak mengenal sistem zona waktu yang kaku seperti UTC (Universal Time Coordinated) pada kalender Masehi. Namun, penanggalan Hijriyah memiliki logikanya sendiri yang berkaitan dengan posisi geografis dan fenomena alam.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai perbedaan cara kerja "waktu" dalam kalender Hijriyah dibanding sistem UTC:

1. Perubahan Hari: Maghrib vs Tengah Malam


Perbedaan paling mendasar adalah kapan sebuah hari dianggap berganti:
* Kalender Masehi (UTC): Hari berganti pada pukul 00:00 (tengah malam) di seluruh zona waktu.
* Kalender Hijriyah: Hari berganti saat Matahari terbenam (waktu Maghrib). Jadi, ketika azan Maghrib berkumandang pada hari Jumat malam, dalam kalender Hijriyah itu sudah memasuki hari Sabtu.

2. Konsep Matla' (Zona Visibilitas Hilal)


Dalam kalender Masehi, dunia dibagi menjadi 24 zona waktu (UTC+1, UTC+2, dst) berdasarkan garis bujur. Dalam kalender Hijriyah, ada konsep yang mirip namun lebih dinamis yang disebut Matla'.

Matla'* adalah wilayah jangkauan di mana hilal (bulan sabit muda) mungkin terlihat.
* Karena bentuk Bumi bulat dan lintasan Bulan miring, hilal tidak terlihat di seluruh dunia pada waktu yang sama.
* Misalnya: Hilal mungkin sudah terlihat di Amerika (karena waktu Maghrib mereka lebih lambat), sementara di Indonesia hilal belum terlihat karena posisi Bulan masih terlalu rendah saat Maghrib.

3. Tidak Ada "Pusat Waktu" Tunggal yang Disepakati Global


Jika kalender Masehi merujuk pada Greenwich (UTC+0), kalender Hijriyah tidak memiliki satu titik referensi tunggal yang disepakati seluruh dunia secara administratif. Akibatnya, ada dua pendekatan besar:
* Rukyat Lokal/Regional: Setiap negara atau wilayah menentukan tanggal berdasarkan penampakan hilal di wilayahnya masing-masing. Inilah alasan mengapa Idul Fitri di Indonesia bisa berbeda hari dengan di Arab Saudi.
* Rukyat Global: Sebagian ulama berpendapat jika hilal sudah terlihat di satu bagian bumi, maka seluruh dunia dianggap sudah masuk bulan baru. Ini mirip dengan konsep "Satu Zona Waktu" untuk seluruh dunia, namun praktiknya sulit diterapkan secara administratif kenegaraan.

4. Upaya Standarisasi (Kalender Islam Global)


Meskipun secara tradisional tidak ada UTC, saat ini para pakar astronomi Islam sedang mengupayakan Kalender Islam Global Tunggal. Tujuannya adalah agar umat Islam di seluruh dunia memiliki satu tanggal yang sama, mirip dengan fungsi UTC. Salah satu kriterianya adalah menggunakan garis tanggal yang ditentukan berdasarkan perhitungan astronomis, bukan sekadar melihat dengan mata telanjang di satu lokasi.

5. Penggunaan Jam yang Tetap Mengikuti Lokal


Meskipun tanggalnya Hijriyah, untuk urusan jam dan menit, umat Islam tetap menggunakan standar waktu lokal (yang berbasis UTC). Contohnya:
* Jadwal salat di Jakarta dihitung berdasarkan posisi Matahari terhadap koordinat Jakarta, namun jam yang digunakan tetap jam WIB (UTC+7).

Kesimpulan


Penanggalan Hijriyah tidak mengenal zona waktu UTC karena dasar penentuannya adalah peristiwa alam lokal (terbenamnya matahari dan posisi bulan), bukan garis imajiner di peta.

Jika UTC membagi dunia secara vertikal (garis bujur), penanggalan Hijriyah membagi dunia berdasarkan lengkungan visibilitas bulan yang bentuknya berubah-ubah setiap bulan.
Tanya AI untuk Jawaban Kilat
Kembali